PEREKAT INFORMASI

Qodari: Program MBG Tak Bisa Dihentikan Meski Diprotes Mahasiswa UGM, Ini Alasannya

Ringkasan Berita:
  • Muhammad Qodari, berdiri membela beberapa pejabat negara setelah kejadian pembubaran diskusi oleh mahasiswa di UGM.
  • Aksi demonstrasi yang berakhir ricuh menargetkan Nusron Wahid, serta Sudaryono.
  • Qodari menyesali perilaku anarkis kelompok mahasiswa yang memaksakan pendiriannya dan menolak untuk berdiskusi.

- Muhammad Qodari, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, menyatakan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak dapat dihentikan meskipun ada penolakan dari sebagian mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM).

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Qodari sebagai tanggapan terhadap aksi protes mahasiswa yang membatalkan diskusi dengan tema "Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia" di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Yogyakarta, pada malam Senin (15/6/2026).

Pada aksi tersebut, beberapa mahasiswa menyampaikan kritik terhadap pemerintah, termasuk tuntutan untuk menghentikan Program Makan Bergizi Gratis.

Berdasarkan pendapat Qodari, MBG adalah program utama yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto, yang termasuk dalam janji kampanye saat Pemilu Presiden 2024.

"Nah di titik itu, saya ingin memberikan konteks bahwa yang disebut MBG tidak bisa Anda minta langsung berhenti. Prabowo dipilih karena program kerja yang dilaksanakan, sehingga tidak bisa diberhentikan," ujar Qodari, Rabu (17/6/2026).

Qodari mengungkapkan, program ini muncul dari komitmen pemerintah dalam mempercepat penanganan stunting serta meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia.

Oleh karena itu, ia menganggap tuntutan untuk menghentikan MBG bertentangan dengan mandat yang diberikan pemilih kepada Prabowo dalam pemilu.

Menurutnya, masyarakat memilih Prabowo bukan hanya sebagai figur presiden, tetapi juga setuju dengan visi, misi, dan rencana kerja yang disampaikan selama masa kampanye.

"Salah besar jika justru meminta Pak Prabowo menghentikan program tersebut. Karena hal itu justru merupakan janji kampanyenya. Anda seolah menyuruh Pak Prabowo tidak menepati janjinya," katanya.

Qodari menganggap perbedaan pendapat dalam sistem demokrasi sebaiknya disampaikan melalui dialog, bukan dengan membubarkan forum diskusi.

Ia menyatakan pemerintah tetap memberi kesempatan komunikasi dengan berbagai kelompok masyarakat, termasuk mahasiswa.

"Yang disebut demokrasi bisa terjadi jika ada komunikasi. Jika tidak ada komunikasi, hanya tuntutan, maka bukan disebut demokrasi," ujar Qodari.

Diketahui, aksi protes mahasiswa terjadi ketika berlangsung sebuah diskusi yang dihadiri oleh Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, serta Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.

Kondisi memburuk hingga terjadi pertukaran lemparan botol plastik antara peserta yang terlibat dalam keributan.

Mahasiswa yang menjadi anggota Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM menyampaikan rasa kecewa terhadap pemerintah yang dianggap tidak peka terhadap kritik masyarakat dan gagal mempraktikkan nilai-nilai Pancasila secara konsisten.

Framing soal etika

Sementara itu, pakar komunikasi politik, Jamiluddin Ritonga, menyoroti adanya upaya peralihan isu dalam kejadian unjuk rasa mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 15 Juni 2026.

Ia menganggap ada pihak yang sengaja menciptakan narasi tentang etika mahasiswa guna menyembunyikan inti kritik yang sebenarnya ingin disampaikan terkait kehadiran Budiman Sudjatmiko dan pejabat negara lainnya dalam diskusi tersebut.

Jamiluddin memperhatikan bahwa saat ini terjadi penguasaan pendekatan justifikasi dari berbagai pihak yang terlibat.

Alih-alih mengupas inti masalah, upaya mencari pembenaran dari masing-masing pihak justru membuat krisis ketidakpercayaan yang dirasakan oleh mahasiswa semakin membingungkan bagi publik.

Menurut Jamiluddin, penyebab penolakan tersebut adalah berkurangnya kepercayaan sebagian mahasiswa terhadap figur yang menjadi narasumber.

Mereka menolak figur pejabat yang hadir, bukan berarti menentang isi diskusi atau pemahaman kebangsaan yang sedang dibahas. Bagi para mahasiswa, kredibilitas narasumber menjadi hal penting yang membuat mereka merasa acara tersebut tidak layak untuk terus berlangsung," katanya.

Artikel ini telah dipublikasikan di Tribunnews.com dengan judul Qodari Mendukung Nusron, Budiman Sudjatmiko, dan Sudaryono Terkait Kejadian Protes Mahasiswa UGM.

Lebih baru Lebih lama
PEREKAT INFORMASI

نموذج الاتصال