
Senayan pada masa 1950-an merupakan kawasan pemukiman masyarakat Betawi. Mendekati tahun 1960-an, penduduknya diungsikan dan dipindahkan ke wilayah Tebet serta Simprug.
Penulis: Rachmat | Ditayangkan di Majalah Intisari edisi Juni 1990 dengan judul "Senayan dan Tebet Tahun 50-an"
---
Intisari hadir di channel WhatsApp, ikuti dan dapatkan berita terkini kami di sini.
---
Intisari-Online.com - Senayan pada masa itu merupakan pemukiman Betawi yang masih hijau dengan banyak pohon buah-buahan. Sementara itu, Tebet masih berupa hutan belantara.
Rachmat menceritakan kenangan masa kecilnya, yang pertama kali diterbitkan dalam Majalah Intisari edisi Juni 1990.
---
Kedua orang tua kakek dan nenek saya berasal dari Garut, Jawa Barat. Namun, sejak tahun 1950-an, mereka tinggal di Senayan. Saya sendiri lahir di Bandung, tetapi sejak berusia 4 tahun tinggal bersama mereka.
Pasar Bundaran
Kakek saya bekerja sebagai pengawas malam di gudang kantor alat-alat besar, yang sekarang menjadi salah satu unit Departemen Pekerjaan Umum. Kakek pergi bekerja setelah shalat Maghrib dan pulang menjelang subuh dengan menggunakan sepeda.
Pada siang hari, kakek menjual perabot rumah tangga seperti lemari, meja kursi, bufet, dan tempat tidur beserta perlengkapannya. Pekerjaan sambilan ini cukup sukses karena rumah kakek sekaligus toko berada di lokasi yang strategis, yaitu di dekat Bundaran Senayan antara dua jalan besar (sekarang Jl. Asia Afrika dan Jl. Pakubuwono VI).
Delman dan kereta kuda mendominasi jalanan di Senayan dan Kebayoran Baru pada masa itu. Delman berfungsi sebagai alat transportasi penumpang, sementara gerobak khusus digunakan untuk mengangkut barang.
Pengguna toko kakek yang tinggal di sekitar Senayan dan Kebayoran menggunakan kereta dorong untuk membawa barang-barang yang mereka beli. Meskipun terdapat becak, jumlahnya tidak sebanyak delman atau kereta dorong.
Kendaraan antarkota yang paling terkenal pada masa itu adalah opelet atau ostin, karena kendaraan tersebut memiliki merek "Austin".
Bundaran Senayan, yang kini di atasnya berdiri Patung Pemuda, dahulu merupakan pasar yang ramai dan buka hingga larut malam. Masyarakat menyebutnya sebagai Pasar Bundaran. Pada malam hari banyak penjual buah-buahan dan makanan yang berdagang di sana.
Buah-buahan yang dijual mencakup durian, mangga, rambutan, cempedak, dan lainnya. Kakek senang mengajak kami makan durian di Pasar Bundaran saat libur.
Pada akhir tahun 1950-an, radio masih dianggap sebagai barang mewah. Di antara para tetangga, hanya kakek yang memiliki alat tersebut.
Pajaknya harus dibayarkan setiap bulan. Saya masih mengingat, radio kakek bermerk Grundig dengan ukuran 50 x 40 x 20 cm.
Setiap hari Minggu, rumah kakek selalu penuh oleh tetangga yang ingin mendengarkan pertunjukan wayang golek yang disiarkan oleh RRI Jakarta dan Bandung sepanjang malam. Suasana terasa seperti orang menonton layar tancap.
Kondisi akan semakin ramai dan hangat jika Maestro Partasuanda didampingi oleh Pesinden Upit Sarimanah atau Titin Fatimah. Nama mereka terkenal pada tahun 50-an hingga awal 60-an.
Bila tiba hari Lebaran, warga Senayan bersama-sama melaksanakan salat Idulfitri di Masjid Agung, yang kini lebih dikenal sebagai Masjid Al Azhar di Jl. Sisingamangaraja. Masjid ini adalah salah satu bangunan yang masih bisa saya kenali dengan jelas setelah berpuluh tahun berlalu.
Tetangga Citra Dewi
Pada tahun 1959, penduduk Senayan diungsikan karena lokasi tersebut akan dibangun beberapa stadion yang menjadi tempat penyelenggaraan Asian Games IV pada tahun 1962. Masyarakat yang tergusur diberi lahan pengganti di Tebet dan Simprug yang masih berlumpur dan konon terdapat buayanya.
Kakek saya memperoleh tanah pengganti di Tebet, saat itu masih berupa hutan liar. Di sekitar tanah pengganti terdapat banyak tumbuhan seperti alang-alang, pohon melinjo, sirsak, nanas, salak, dan gadung.
Pada tahun pertama, tetangga kakek di Tebet masih jarang, bahkan rumah mereka tidak terlihat karena tertutup oleh rumput liar. Setelah 2 atau 3 tahun, kami mulai memiliki tetangga yang lebih dekat.
Salah satu tetangga yang masih terkenang jelas oleh saya adalah keluarga dari aktris Citra Dewi. Menurut ingatan saya, di lingkungan gang tempat kami tinggal, hanya Citra Dewi yang memiliki mobil, yaitu Fiat 1100 berwarna putih.
Saat masih kecil, saya termasuk anak yang sering berulah. Tempat bermain kami cukup jauh hingga membuat kakek dan nenek merasa khawatir.
Saya sering pergi ke Jembatan Semanggi untuk mencari jangkrik kalung, yang ukurannya lebih besar dibandingkan jangkrik biasa dan memiliki garis berwarna kuning melingkar di dekat punggungnya.
Jarak dari Tebet ke Jembatan Semanggi tergolong jauh, hampir menyeluruh sepanjang Jl. Jenderal Gatot Subroto. Untuk mengetahui apakah tujuan sudah dekat atau masih jauh, kami menggunakan Gedung GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia) sebagai patokan.
Bila Gedung GKBI terlihat, berarti tujuan sudah dekat. Dulu, Gedung GKBI dapat terlihat dari jauh, karena gedung bertingkat di sepanjang Jl. Jenderal Gatot Subroto masih jarang.
Mungkin Gedung GKBI adalah bangunan paling tinggi di area tersebut—pada masa itu.
Pada tahun 1964, saya harus berpisah dengan kakek karena ikut orang tua ke Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Dengan perasaan sedih, saya meninggalkan Tebet bersama segala kenangan yang ada.